Slogan Lucu dan Menggemaskan
Ini dia slogan unik dan lucu. Adanya di kota Madiun, Jawa Timur. Agak terkejut juga, ketika baru masuk kota ini, langsung disodori billboard bertuliskan kata-kata ini. Geli, bercampur rasa ingin tahu yang besar, kenapa ya si pemda memilih Gadis menjadi Slogan kotanya?.
Apa benar, kota ini berjibun gadis-gadis cantik yang bisa dipilih? atau hanya gadis-gadis saja yang bisa masuk ini kota? wah.. saya semakin penasaran nih. Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang teman asal kota ini. Barulah saya mengerti arti dibalik itu semua. Ternyata, Gadis itu tak berarti apa-apa, hanya sebuah singkatan dari kata Perdagangan, Pendidikan dan Industri. Yaa ampyunnnn.. bapak-bapak pemda jangan bikin kita-kita pusing dong.
Berkunjung ke Singapura kedua kalinya, saya ke tempat ini. Kampong Glam. Sebuah tempat dimana dulunya sebuah kerajaan melayu berpusat. Tanda-tanda kebesaran kerajaan ini, masih terlihat di area ini. Seperti Masjid Sultan dan Istana Kampong Glam. Beruntung, pemerintah Singapura sangat perhatian dengan bangunan tua ini. Kalau tidak, tempat ini pasti tidak menjadi tempat tujuan wisata. Lagipula bangunan tua disekeliling juga masih terawat. Pastilah, pemerintah di negara singa ini, memberi dana lebih untuk perawatan bangunan. Kenapa namanya Kampong Glam? konon di tempat ini dulunya banyak banget pohon glam. Sejenis pohon yang bisa menghasilkan seperti minyak kayu putih. Namun sayangnya tak ada satu pun pohon glam yang tertinggal disini. Kampong Glam menyisakan sesuatu di hati saya, yang tidak saya temui ditempat lain di Singapura. Ramah Tamah. Seperti yang kita tahu, warga singapura terkenal kaku dan sangat individual. Namun sangat berkebalikan disini. Begitu ramahnya, serasa bukan di singapura. Demikian pula ketika saya akan masuk ke gedung kebanggaan Kampong Glam. Masjid Sultan. Bangunan megah dengan kubah emas. Di dalamnya pun terbentang karpet berbulu tebal dan tergantung lampu-lampu mewah. Ketika saya sholat disana, semuanya sangat bersih. Mulai mukena dan karpet tak berbau dan tak terlihat noda. Begitu penjaga masjid tahu kami orang muslim, dengan gampangnya meminta ijin untuk mengambil gambar. Padahal saya sudah was-was tidak bisa melakukan kegiatan itu disini. Keunikan Masjid ini adalah konstruksi di bawah kubah emas yang terbuat dari susunan boto kosong. Satu lagi, Istana Kampong Glam. Bangunan yang telah di restorasi ini, dulunya menjadi tempat tinggal para sultan melayu. Konon beberapa anggota keluarga masih keturunan orang Indonesia. Terlihat dari replika gasibu dan replika kapal bugis. Pokoknya, saya sarankan ke tempat ini deh. Dapat pemandangan bagus juga makanan enak. Salah satunya Kampong Glam Kafe. Makanan disini sangat masuk dengan selera lidah orang indonesia. Sesuatu yang sangat langka ditemui di Singapura.
Amboi, Indahnya Pantai Iboih
Pantai Iboih. Mengejanya dengan cara menghilangkan pengucapan i. Kalau didengar akan mirip seperti mengucapkan Iboh saja. Menunya: Pantai berpasir indah dan pemandangan laut lepas. Sensasi ini sudah dijamin akan didapat di pantai yang sudah kesohor namanya itu. Dari jauh, air laut disini memang terlihat biru. Tapi coba perhatikan lebih dekat. Gile neek… bening banget! Segala macam benda, baik itu karang maupun ikan, bisa terlihat, meskipun kedalamannya mencapai lebih dari 3 meter.
Duduk di atas dermaga yang baru dibuat, lantaran rusak akibat tsunami 2 tahun silam, membuat jiwa dan fikiran jadi tenaaangg banget. Jepret sana-sini, jadi aktivitas satu-satunya yang terlintas dikepala, untuk merekam keindahan di depan mata.
Yippy.. main air laut yang bening dan hangat, jadi akitivitas selanjutnya. Hehehe jadi lupa umur, saking asyiknya. Tak dilewatkan pula, mengunjungi Pulau Rubiah, diseberang sana. Nggak jauh-jauh amat sih, tapi bagaimanapun kan butuh perahu, tul gak!. Sewa perahu untuk bolak-balik Pantai Iboih- Pulau Rubiah, emang cukup mahal, sekitar 150 ribu.

Namun, begitu sampai di pulau rubiah, 150 ribu yang udah dikeluarkan, jadi tak berarti apa-apa demi melihat indahnya ini pulau. Pulau ini dinamai sama persis dengan seorang wanita yang makamnya juga terdapat di pulau ini, Cut Nyak Rubiah. Konon katanya, beliau adalah istri dari salah satu ulama terkenal di negeri aceh. Di pulau ini pula ia membuat perkebunan. Di tahun-tahun mendatang, pulau ini juga dijadikan tempat karantina orang-orang yang akan berhaji. Bisa dimaklumi, dahulu kala, untuk mencapai tanah suci butuh perjuangan keras, karena transportasi udara belum ada. Satu-satunya jalan, ya lewat laut. Nah.. di pulau inilah, orang-orang dari seluruh Indonesia dikarantina untuk kemudian akan dikirim ke mekah. Masih ada bangunan rumah sakit haji di sana. Tapi ya itu tadi, udah hancur tak berbentuk. Yang tertinggal hanya tembok-tembok tua saja.
Menikmati pulau ini, cukup bertandang ke satu-satunya kedai atau warung makan di pulau ini. Di depan warung ini ada hammock, sejenis ayunan dari jaring tali. Bisa-bisa, kita bakal ketiduran deh, dengan ayunannya dan iringan suara ombak tepat di depan mata. Tak ketinggalan, jangan lupa memesan kelapa muda ya. Hmm yummy kelapa mudanya enak banget. Ada cara khas lho untuk meminumnya. Yaitu ditambahkan perasan jeruk nipis di dalamnya. Kalau mau juga bisa ditambah beberapa bongkah es. Huuuu asyik!
Sampai-sampai kita tak kenal waktu deh disana. Pengennya sih tinggal lebih lama. Tapi apa mau dikata, kita sudah berjanji dengan si empunya perahu, untuk di jemput pukul 4 sore. Huhuhu selamat tinggal Rubiah…..
Nah.. ini dia mahendi. Tato yang asalnya dari india. Tapi jangan kuatir. tato ini cuma temporer aja kok, alias bisa ilang. Waktu bertahannya kira-kira 2 mingguan lah. Soalnya bahan pembuat tato ini berasal dari daun henna. Gue ngebuat tato ini di litte india, tepatnya di serangoon road, singapura, pas gue liputan kesana. Sebenernya sih model mahendi banyak. tapi gue milih yang simpel-simpel aja. abis daripada terlalu heboh ntar dikira aneh. hehehe.
model yang gue pilih ini namanya arabic design. Parveti, wanita berusia 30 an inilah, yang buat tato di tangan gue. dia jago banget. ya iya lah. dia udah 10 tahun malang melintang melukis mahendi. Karena itu, tokonya di serangoon road ini ramai dikunjungi orang.
Harga yang harus gue bayar, hmm cukup mahal juga sih. yaitu sekitar 10 dolang sing atau kalau dirupiahin sekitar 60 rebu. hehe gue sih nyantai ajah. soalnya khan buat keperluan liputan. jadi bayarnya ya..pake duit kantor. Biasanya, mahendi dipake sama ceweq-ceweq india kalo dia akan menikah. tapi, sekarang ini sih, mahendi bebas dipake kapan aja dan sama siapa ajah.

Emang enggak lengkap kalo ke little india, tanpa mencoba baju sari, baju khas wanita india. Hehehe gimana penampilan gue. Udah kayak orang india khan? gue beli ini di salah satu toko penjual sari di buffalo road. Di toko ini, gue milih sari merah terang ini yang harganya 20 dolar sing atau sekitar 120 ribu rupiah. Lebarnya sekitar 6 meter saja. nah disinilah gue juga minta diajarin cara memakainya. cukup dengan empat langkah, sim sala bim, kain sari tiba-tiba saja sudah terlilit rapi di tubuh gue. tanpa dijahit, cuma pake trik lilit melilit. Waduh, susah juga jalan pake baju model gini. Terlebih, Wawan sang cameramen meminta gue untuk berjalan dengan pake baju ini, mengelilingi little india. Weleh.. weleh.. katanya sih atas nama keperluan gambar liputan. Tapi kan, secara gitu loh, warna tu sari udah terang menyala. udah gitu, muka kagak ada keturunan india sedikitpun. jadilah pusat perhatian, karena ada india gadungan. hehehehe
 Gue memang bukanlan wanita biasa. Maksudnya? Yang namanya wanita pada umumnya, khan punya napsu makan dan porsi makan yang tidak terlalu banyak. Nah.. berbeda dengan gue, porsi makan dan napsu makan gue bisa dibilang diluar kebiasaan para wanita. Apalagi kalo ada jenis makanan baru, gue gak segan-segan untuk nyoba.
Apalagi kalo pergi keluar kota, yang nota bene kita bisa nemuin macem-macem makanan yang menurut kita baru dan aneh. Contohnya aja, waktu gue pergi ke Palangkaraya. Gue gak segan-segan untuk nyoba opor daging kelelawar. Terus, di Banjarmasin, ada jengkol rebus yang dijadiin makanan selingan. Di sumbar, ada ampiang dadiah. Pernah juga nyoba daging uler dan darah uler. Semuanya gue cobain, saking penasarannya.
Nah.. cuma di tempat ini, selera makan gue turun drastis. Tepatnya di Bali. Karena seminggu kemarin, tanggal 17 sampe 25 Mei, gue ditugasin kesana. Apalagi dimana-mana akan terlihat babi-babi bergelimpangan panas terpanggang. Yah... mayoritas makanan dibali kayaknya babi deh... walahhhh.... ya udah, nyarinya pasti warung makan yang ada tulisan 'warung muslim' ato ' warung jawa'. Udah susah nemuinnya, karena gue liputan ke pelosok2, terus gak semuanya khan enak. Terpaksa, daripada sakit, mendingan dipaksa2in makan deh.... Nah.. untuk referensi, ada beberapa makanan yang menurut lidah orang yang tinggal dijakarta ini enak. Pertama, nasi jenggo di jalan senopati, di depan toko batik gituh. Terus yang jual namanya Bu Suce. Kalo mau tau tepatnya dimana, tonton liputan gue tentang nasi jenggo yah, di Transtv Program Jelang Siang, hari Minggu tgl 11 Juni 2006 jam 11.45 sampe 12.30. yang kedua, namanya Warung Jawa, adanya di klungkug. Enak banget. ada pecel, bakwan jagung, hmmm sedappp.
Trus, kantong gue terkuras dengan sadisnya. bayangin, ini pertama kalinya gue belanja blanji pas dlk sampe 500 rebu!. Halah.. gak ada sisa donk! huhuhu. Tapi ga papa, emang kapan lagi gue ke bali, kalo gak dinas.
Nah, selama liputan ada beberapa narasumber yang nanya ke gue "udah berapa kali ke bali?" dengan polosnya gue jawab, "baru satu kali". Bermacam-macam deh reaksi mereka. yang pasti sih semuanya kaget. ada juga yang jawab "mbak, orang indonesia bukan sih, kok baru sekarang ke balinya?" kalo gak "bener, baru ke bali?" pokonya jawaban2 yang menyatakan ketidakpercayaan mereka. Trus gue pikir emang kenapa gitu loooohhh.. bali juga gak indah2 amat deh. banyak kok tempat2 yang lebih indah dari bali. bali menurut gue menang di pantai dan budayanya yang masih kuat. tapi kalo daerah2 lain menurut gue jauh lebih indah deh... aceh indah, bangka juga bagus, sumatra barat apalagi. ya gak? ada yang mau komentar?

Malam itu, Hp gue berbunyi. Jonres, salah satu wartawan padang ekspres, kasi info ke gue kalau besok, semua wartawan bukittinggi mau pergi ke mahat aka maek. menurut infonya, ada sekitar 11 orang yang dipasung. Perjalanan ke sana memang jauh dan penuh resiko, karena jalurnya yang menurun dan menanjak. Mobil yang bisa menempuh perjalanan ke sana pun tidak bisa mobil sembarangan. Hanya mobil seperti Jeep dan sejenisnya yang mampu menempuh perjalanan sampai ke sana. Pagi hari, gue udah sampai ke tempat berkumpul, di kantor kabupaten 50 kota. Kaget bercampur bingung, liat orang-orang yang siap-siap berangkat ke sana kok perabotannya kayak naek gunung. seperti pake sepatu gunung, jaket, dll. Sedangkan gue, tomo dan driver cuma pake baju seadanya, layaknya mau jalan2. Waduh gimana nih. Ah cuek lah.
Setelah semua kumpul, kita berangkat. mobil kijang pun dipaksakan untuk memutar roda pergi kesana. untung bisa. Nah... ditengah perjalanan kita istirahat, di panorama angin berembus. gak tau ya kenapa dinamain seperti itu. mungkin nih tempat emang banyak anginnya kali yak. hehehe
Di tempat ini, kita bisa lihat deretan bukit barisan yang amboi indahnya. Pernah liat film Sound Of Music? mungkin seperti itulah keadaannya. Gue serasa di Slazburg Austria nih jadinya, hehehehe.
Sampai tujuan, kita langsung liputan orang dipasung. Orang-orang ini dipasung karena kehilangan akalnya. Mereka sering lari ke dalam hutan, dll. Si keluarga yang tak mampu membiayai pengobatan ke rsj, terpaksa memasung anaknya itu, biar gak lari masuk hutan dan dimakan binatang buas.
yang menyedihkan, ada seorang wanita yang udah dipasung selama 20 tahun. ia hamil tanpa diketahui siapa si bapak jabang bayi. setelah si anak menginjak remaja, ternyata kejadian itu berulang kembali pada si anak. Ia menjadi gila setelah tahu keadaan ibu kandungnya.
Satu kelurahan yang punya 11 orang gila yang dipasung. Sungguh dahsyat, begitu banyaknya jumlah orang gila disana. belum ada penelitian yang pasti kenapa di tempat ini banyak orang yang mengalami kondisi seperti ini.
Dibalik tempat yang indah, seperti diluar negeri ini, ternyata ada penderitaan yang dirasakan oleh sekelompok orang yang karena kehilangan akalnya, terpaksa harus dipasung bertahun-tahun.
  
Ini dia, biola nya orang sumbar. Di namakan Rabab. Gue sendiri baru pertama kali liat bentuk alat musik ini. Kalo di jakarta sih, ada juga alat musik macam gini kalo gak salah. Nah si rabab ini mengeluarkan bunyi mirip-mirip biola, agak menyayat gitu deh. biasanya si rabab ditemani sama gendang, untuk mengiringi suatu cerita.
Orang yang bisa mainin rabab ini juga udah langka banget. Salah satunya si bapak ini. selain bisa mainin, dia juga bisa bikin nih alat musik. Sore-sore sambil ditemenin sama teh anget, ditambah ada live music rabab. Wah rasanya sensasional buangeet. Asyik bok. Sebenernya gue ke tempat ini bukan tujuannya dengerin si rabab ini. Si anaknya bapak ini kebetulan gue liput, karena dia pengrajin akar pohon gitu. Sambil menunggu keringnya plituran si cat di akar kayu, ya... ga ada salahnya dengerin rabab khan? gitu kata si bapak. Makasih.. makasih pak... saya puas banget deh.   
Pernah denger kata-kata ini kan? kalo gue sendiri pernah denger ketika nonton extravaganza ditipi. salah seorang pemainnya menyebutkan kata-kata ini. Ya.. kata-kata ini memang biasanya dihubungkan dengan dugem alias musik-musik disko yang kedengerannya seperti jep ajep jep ajep.. Ampun dijehhh.. hehehe
Yang namanya yunita, sumpeh emang bener-bener belum pernah menginjak tempat-tempat seperti ini.Gue sendiri emang penasaran mampus, seperti apa sih suasana diskotik itu. pasalnya nyang namenye gue tinggal di tangerang, maka akses ke tempat-tempat gituan emang lebih sulit, soalnya lebih banyak di jakarta. Tempat tempat seperti millenium, matabar itu cuma pernah gue denger di kuping ajah.
Tapi rasa penasaran itu terawab sudah. Gue akhirnya bisa merasakan seperti apa sih suasana diskotik itu? Tempatnya pun lumayan jauh, bahkan berada di pulau lain. Yap gue pergi ke diskotik ketika gue ada di banjarmasin. Tempatnya tepat dibelakang hotel tempat gue menginap. Yaaa emang setengah sengaja sih milih hotel borneo international. Yaa apalagi kalo bukan karena banyak dan mudah mendapatkan entertain di malam hari, dan gretong bok.
Ada diskotik, pub, lounge karaoke dlll. Sebenernya untuk masuk ke diskotik, perlu mengeluarkan uang 35 rebu. tapi karena berkat teman kita yudi, akhirnya kami berempat tidak perlu membayar, malahan dapet minuman gratis. Gelap bok dalemnya. (ya iyalah masak mau terang benderang?) Trus mata gue sepet, karena banyak asap rokoknya. Gue juga agak2 pusing geto didalem sanah..
Nah besoknya, gue bersantai di lounge hotel, yang suasananya lebih santai sambil mendengar live music. nyang namenye duduk disana kan harus pesen minuman tuh. Si dapit pesen bir. si topan pesen greensand. Nah kalo gue, pesen yang sedikit-sedikit keras, minuman yang bikin mata merem melek.... tidak lain adalah Coklat Susu Hangat... hehehe langsung ngantuk dah gua.
 Kali ini gue berkesempatan untuk menginjakkan kaki di pulau borneo alias kalimantan. Pulau ini emang luas banget, didominasi oleh sungai-sungai yang cukup panjang dan cukup lebar. Otomatis, transportasi favorit disana adalah motor boat dan sampan. Meski begitu, selama gue disana, gue gak sempet naek kedua kendaraan itu. Yang ada menikmati perjalanan darat dengan mobil selama 3 sampai 5 jam. Perjalanan kali ini emang gue rasain lebih melelahkan dibanding perjalanan dinas gue sebelumnya. Pasalnya, gue tidak hanya menyambangi satu propinsi, melainkan dua. Kalimantan Tengah sekaligus Kalimantan Selatan. Yaaa itung-itung jalan-jalan lah. Iya jalan-jalan tapi teteup aja judulnya kerja dan ujung-ujungnya capekkkk. Dengaan menumpangi pesawat sriwijaya, sampai juga gue di bandara tjilik riwut palangkaraya. Konon, tjilik riwut itu adalah salah satu pahlawan orang kalteng. Ia juga pernah menempati orang pertama di kalteng, yaitu menjadi gubernur kedua propinsi ini. Cukup 5 hari disana, bikin gue sedikit item. Masalahnya, kalimantan yang letaknya persis ditengah garis katulistiwa ini cukup panas, namun berangin. Maka jangan heran kalau pergi ke daerah ini sering melihat banyak orang yang dengan cueknya memakai bedak dingin keluar rumah. Wajah-wajah mereka dipenuhi dengan pupur berwarna putih. Kalo dijakarta tentu udah diliatin orang sekampung. Tapi kalo disana ya cuek aja. Liputan di Palangkaraya didominasi sama yang unik-unik, meski ada juga liputan kriminal. Yang paling unik adalah liputan tentang daging kelelawar, atau orang sana bilang daging bengamat. Daging kelelawar untuk apa ya? jangan heran kalau orang palangkaraya sangat senang memakan daging hewan malam ini. Malah menjadi makanan favorit. Untuk mendapatkannya pun amat sulit. kelelawar akan banyak ditemui pada waktu dan musim-musim tertentu, misalnya musim hujan dan musim buah. Bagaimana rasanya? tanyakan pada gue. Hehehehe dengan sedikit keberanian dan paksaan, gue berhasil juga memakan daging kelelawar. Liputan di siang hari dan belum makan memang menimbulkan keberanian untuk memakannya. Alasannya apalagi kalo bukan laper perut minta diisi. Tapi yang ada didepan mata hanya daging itu seorang. Yah terpaksa deh. Ditambah lagi mencicipinya adalah suatu keharusan bagi seorang kru jelang siang yang ingin PTC didepan kamera, menjelaskan enaknya daging kelelawar. Hmmm agak-agak bau sedikit, dan yang paling enak adalah sayapnya yang rasanya percis jamur. Gak percaya? coba aja.
Nah liputan paling menarik di banjarmasin, kalsel tidak jauh-jauh dari makanan. Yaitu JUENGKOLLL. Iyah, disana jengkol dimakan untuk penganan ringan. Lagi-lagi si reporter yang punya kepentingan PTC ini diharuskan mencicipinya. Meski sekalipun belum pernah mencoba, menggigit mengunyah apalagi meresapi rasanya, gue kudu makan tuh jengkol didepan kamera. Dengan sedikit senyum dipaksa, (didepan kamera bok, jadi harus jaim) gue menjelaskan bahwa jengkol ini enak lho apalagi kalo ditambah kuah yang gurih itu. Hahaha pembohongan publik. Gimana enak, nelen aja gue susah.

| |