Amboi, Indahnya Pantai Iboih
Pantai Iboih. Mengejanya dengan cara menghilangkan pengucapan i. Kalau didengar akan mirip seperti mengucapkan Iboh saja. Menunya: Pantai berpasir indah dan pemandangan laut lepas. Sensasi ini sudah dijamin akan didapat di pantai yang sudah kesohor namanya itu. Dari jauh, air laut disini memang terlihat biru. Tapi coba perhatikan lebih dekat. Gile neek… bening banget! Segala macam benda, baik itu karang maupun ikan, bisa terlihat, meskipun kedalamannya mencapai lebih dari 3 meter.
Duduk di atas dermaga yang baru dibuat, lantaran rusak akibat tsunami 2 tahun silam, membuat jiwa dan fikiran jadi tenaaangg banget. Jepret sana-sini, jadi aktivitas satu-satunya yang terlintas dikepala, untuk merekam keindahan di depan mata.
Yippy.. main air laut yang bening dan hangat, jadi akitivitas selanjutnya. Hehehe jadi lupa umur, saking asyiknya. Tak dilewatkan pula, mengunjungi Pulau Rubiah, diseberang sana. Nggak jauh-jauh amat sih, tapi bagaimanapun kan butuh perahu, tul gak!. Sewa perahu untuk bolak-balik Pantai Iboih- Pulau Rubiah, emang cukup mahal, sekitar 150 ribu.

Namun, begitu sampai di pulau rubiah, 150 ribu yang udah dikeluarkan, jadi tak berarti apa-apa demi melihat indahnya ini pulau. Pulau ini dinamai sama persis dengan seorang wanita yang makamnya juga terdapat di pulau ini, Cut Nyak Rubiah. Konon katanya, beliau adalah istri dari salah satu ulama terkenal di negeri aceh. Di pulau ini pula ia membuat perkebunan. Di tahun-tahun mendatang, pulau ini juga dijadikan tempat karantina orang-orang yang akan berhaji. Bisa dimaklumi, dahulu kala, untuk mencapai tanah suci butuh perjuangan keras, karena transportasi udara belum ada. Satu-satunya jalan, ya lewat laut. Nah.. di pulau inilah, orang-orang dari seluruh Indonesia dikarantina untuk kemudian akan dikirim ke mekah. Masih ada bangunan rumah sakit haji di sana. Tapi ya itu tadi, udah hancur tak berbentuk. Yang tertinggal hanya tembok-tembok tua saja.
Menikmati pulau ini, cukup bertandang ke satu-satunya kedai atau warung makan di pulau ini. Di depan warung ini ada hammock, sejenis ayunan dari jaring tali. Bisa-bisa, kita bakal ketiduran deh, dengan ayunannya dan iringan suara ombak tepat di depan mata. Tak ketinggalan, jangan lupa memesan kelapa muda ya. Hmm yummy kelapa mudanya enak banget. Ada cara khas lho untuk meminumnya. Yaitu ditambahkan perasan jeruk nipis di dalamnya. Kalau mau juga bisa ditambah beberapa bongkah es. Huuuu asyik!
Sampai-sampai kita tak kenal waktu deh disana. Pengennya sih tinggal lebih lama. Tapi apa mau dikata, kita sudah berjanji dengan si empunya perahu, untuk di jemput pukul 4 sore. Huhuhu selamat tinggal Rubiah…..